Ditulis oleh dr. Arifianto dan dr. Nurul Itqiyah Hariadi
Demam setelah imunisasi dengan vaksin hidup adalah wajar. Sama halnya dengan demam saat ada infeksi mikroorganisme yang mampir ke tubuh. Tak perlu cemas dan panik.
Upaya menangani demam bukan prioritas utama. Tindakan pertama adalah mengidentifikasi adanya infeksi bakteri, dan kalau perlu merujuk ke rumah sakit untuk tindakan selanjutnya.
Jangan langsung meminum/kan obat pereda demam pada saat demam. Usaha meredakan demam lebih ditujukan untuk mengatasi ketidaknyamanan (jika memang signifikan), bukan untuk menurunkan suhu tubuh.
APA itu Demam?
Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi mikroorganisme (virus, bakteri, parasit). Demam juga bisa disebabkan oleh faktor non-infeksi seperti kompleks imun atau peradangan lainnya. 
Ketika virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, berbagai jenis sel darah putih (leukosit) melepaskan pirogen endogen yang memicu produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior (pusat pengatur suhu di otak). Hipotalamus anterior kemudian meningkatkan nilai-ambang temperatur dan terjadilah demam.
Singkatnya, demam adalah efek dari beredarnya pirogen (zat penyebab demam) yang dilepas oleh leukosit dalam fungsinya sebagai anggota sistem pertahanan tubuh.
PENGUKURAN Suhu
Suhu di daerah dubur paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core body temperature). Suhu di daerah mulut atau ketiak sekitar 0,5-0,8 derajat lebih rendah dari suhu rektal, dengan catatan setelah pengukuran selama minimal 1 menit.
Ukurlah suhu dengan termometer, bukan dengan tangan. Dan lebih baik gunakan termometer digital (terserah jenisnya, mau yang mahal pakai infra merah atau buatan Cina yang hanya Rp. 25 ribu), sebab resiko yang harus dialami jika termometer raksa pecah terlalu tinggi dibandingkan harganya yang Rp. 10 ribu.
Demam Akibat INFEKSI
Demam pada Infeksi Virus
Demam pada bayi dan anak-anak umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Demam akibat infeksi virus biasanya disertai gejala lain seperti sariawan, ruam cacar (dan ruam lain yang mudah dikenali), batuk-pilek (selesma/common colds), dan peradangan saluran cerna.
Penyakit yang disebabkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya.
Demam pada Infeksi Bakteri
Salah satu infeksi bakteri yang paling sering ditemukan pada anak adalah infeksi saluran kemih (ISK). Umumnya tidak disertai gejala lain alias hanya demam. Resiko paling besar dimiliki bayi yang berusia di bawah 6 bulan.
Infeksi yang lebih serius seperti pneumonia atau meningitis (radang selaput otak) juga dapat menimbulkan gejala demam. Dari bayi > 3 bulan dan anak 1-3 tahun dengan demam > 39 C, hanya sekitar 2% saja yang bakterinya sudah memasuki peredaran darah (bakteremia). Pada golongan usia ini, program imunisasi HiB berhasil menurunkan resiko meningitis bakterial secara signifikan.
Usia yang menuntut kewaspadaan tinggi orangtua dan dokter adalah usia < 3 bulan. Bayi harus menjalani pemeriksaan yang lebih teliti karena 10 %-nya dapat mengalami infeksi bakteri yang serius, dan salah satunya adalah meningitis.
Walaupun sebagian besar penyebab demam adalah infeksi virus, data menunjukkan bahwa justru sebagian besar tenaga medis mendiagnosisnya sebagai infeksi bakteri. Ini menyebabkan pemberian antibiotik yang salah sasaran.
DAMPAK Demam
Dampak Menguntungkan
Fungsi pertahanan tubuh manusia bekerja lebih baik pada suhu demam dibandingkan suhu normal. Pelepasan pirogen endogen akan memicu pertambahan jumlah leukosit, meningkatkan aktivitas mereka dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme serta meningkatkan produksi/fungsi interferon (zat yang membantu leukosit memerangi mikroorganisme).
Dampak Negatif
Pertama, kemungkinan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Ketika mengalami demam, terjadi peningkatan penguapan cairan tubuh sehingga anak bisa kekurangan cairan.
Kedua, kekurangan oksigen. Saat demam, anak dengan penyakit paru-paru atau penyakit jantung-pembuluh darah (kardiovaskuler) bisa mengalami kekurangan oksigen sehingga penyakit paru-paru atau kelainan jantungnya akan semakin berat.
Ketiga, demam > 42 C bisa menyebabkan kerusakan neurologis (saraf), meskipun sangat jarang terjadi. Tidak ada bukti penelitian yang menunjukkan terjadinya kerusakan neurologis bila demam < 42 C.
Terakhir, anak berusia < 5 tahun, terutama antara 6 bulan-3 tahun, beresiko kejang demam (febrile convulsions), khususnya pada temperatur rektal > 40 C. Kejang demam biasanya hilang dengan sendirinya, dan tidak menyebabkan gangguan neurologis (kerusakan saraf).
PENGOBATAN dengan Antipiretik (pereda demam)
Mekanisme Kerja: menghambat produksi prostaglandin. Parasetamol, aspirin, dan obat anti inflamasi (peradangan) non-steroid (OAINS) lainnya adalah antipiretik yang efektif.
Parasetamol
Parasetamol adalah obat pilihan utama untuk anak-anak karena lebih aman hampir tanpa efek samping (bila diminum sesuai aturan).
Sebagian kecil parasetamol direaksikan oleh tubuh membentuk intermediet (turunan, berupa senyawa antara) aril yang hepatotoksik (menjadi racun untuk hati). Karena itu tidak boleh digunakan terus menerus dalam waktu yang lama (hitungan bulan, misalnya).
Aspirin
Merupakan antipiretik yang efektif namun penggunaannya pada anak dapat menimbulkan efek samping yang serius. Aspirin bersifat iritatif terhadap lambung sehingga meningkatkan resiko luka pada lambung, perdarahan (akibat dihambatnya aktivitas trombosit), hingga perforasi (terbentuknya lubang di dinding lambung).
Pemberian aspirin pada anak dengan infeksi virus terbukti meningkatkan resiko Sindrom Reye, yang ditandai dengan kerusakan hati dan ginjal. Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk anak berusia < 16 tahun.
Obat Anti Inflamasi Non-Steroid (OAINS)
Jenis OAINS yang paling sering digunakan pada anak adalah ibuprofen. Dosis sebesar 5-10 mg/kg/kali mempunyai efektifitas antipiretik yang setara dengan aspirin atau parasetamol.
OAINS dan aspirin memiliki kesamaan, yaitu bisa menyebabkan luka lambung, perdarahan, dan perforasi, meskipun komplikasi ini jarang pada anak-anak. Ibuprofen juga tidak direkomendasikan untuk anak demam yang mengalami diare dengan atau tanpa muntah.
Jenis lainnya
Turunan pirazolon seperti fenilbutazon dan dipiron, efektif sebagai antipiretik tetapi jauh lebih beracun.
Sampai di sini, banyak sekali disebut senyawa-senyawa kimia ya? Inilah -salah satunya- mengapa kita wajib mengetahui nama generik obat yang -akan- kita konsumsi. Keterangan tentang ‘kata-kata sulit’ mohon pelajari sendiri di halaman statis yang ditautkan.
TERAPI pendukung
Terapi yang Direkomendasikan
Tingkatkan asupan cairan (ASI -dan hanya ASI untuk bayi < 6 bulan-, susu, air, kuah sup, atau jus buah). Minum banyak juga mampu menjadi pelega saluran napas dengan mengurangi produksi lendir di saluran napas.
Jarang terjadi dehidrasi berat tanpa adanya diare dan muntah terus-menerus. Hindari makanan berlemak atau yang sulit dicerna karena demam menurunkan aktivitas lambung.
Kenakan pakaian tipis dalam ruangan yang ventilasi udaranya baik. Tidak harus terus berbaring di tempat tidur, tetapi jangan melakukan aktivitas berlebihan.
Mengompres dengan air hangat dapat dilakukan jika anak rewel (karena merasa sangat tidak nyaman), umumnya pada suhu sekitar 40 C. Umumnya demam akan turun dalam 30-45 menit. Namun jika anak merasa semakin tidak nyaman dengan berendam, jangan lakukan hal ini.
Terapi yang Tidak Direkomendasikan
Upaya ‘mendinginkan’ badan dengan melepas pakaian, mandi atau berbasuh air dingin, atau mengompres dengan alkohol. Jika nilai-ambang hipotalamus sudah direndahkan dengan antipiretik, upaya tersebut akan membuat tubuh menggigil sebagai usaha untuk menjaga temperatur pusat berada pada nilai-ambang yang telah disesuaikan. Selain itu alkohol dapat pula diserap melalui kulit masuk ke dalam peredaran darah dan beresiko keracunan.
<< Previous …..